Hasil pemantauan dua media lokal
Banten, yakni Baraya Post dan Kabar Banten pada pekan lalu (12-18 Maret 2012),
kisruh seputar kenaikan harga BBM menjadi sorotan utama wartawan dan menjadi
penyumbang berita terbanyak dalam amatan isu good governance kali ini dengan 67 berita (52,34%) dari 128 total berita. Berbeda dengan minggu-minggu yang lalu,
maraknya aksi kejahatan yang akhir-akhir ini sering terjadi kali ini, menempatkan
isu kriminal di urutan kedua dengan 24
berita (18,75%), disusul isu lingkungan
hidup 20 berita (15,62%). Sisanya isu perempuan
dan/atau anak 10 berita (7,8) dan isu ham
dengan 7 berita (5,4%).
Rencana pemerintah pusat untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang hanya tinggal menghitung hari, nampaknya akan sangat memukul masyarakat Indonesia pada umumnya. Bagaimana tidak, dengan naiknya harga BBM, otomatis harga-harga bahan pokok dan harga lainnya akan ikut melambung. Dengan kondisi ini, jelas akan membuat masyarakat Indonesia terutama yang bagi mereka yang berpenghasilan minim, akan merasa sangat terpukul. Hal itu, tak pelak menimbulkan reaksi keras dari sejumlah kalangan masyarakat. Itu dapat terlihat dari banyaknya pemberitaan di media yang melayangkan berita tentang sejumlah aksi demo yang dilakukan oleh para aktivis maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan para ormas-ormas lainnya yang menetang keras terkait dengan kenaikan harga BBM tersebut.
![]() |
| Puluhan mahasiswa dari berbagai elemen kemahasiswaan menggelar aksi penolakan rencana kenaikan harga BBM di depan gedung DPRD Lebak, Senin (12/3) Sumber foto: Endang Mulyana/Kabar Ban |
Untuk di daerah Kabupaten Lebak sendiri,
menurut pantauan terhadap media lokal Baraya Post dan Kabar Banten. Nampak,
dalam beberapa hari ini di depan kantor Gedung DPRD Kabupaten Lebak tak pernah
sepi dari aksi para pengunjuk rasa. Dalam seminggu ini,terhitung sudah tiga
kali aksi demo yang dilakukan oleh sejumlah aktivis mahasiswa yakni Imala,
Kumala, Embun, HMI, GMNI, PMII, Fakrab, Geram, IMC, dan AMLS. Rata-rata, motif
dari kegiatan aksi demo dari masing-masing aliansi tersebut hampir sama, yakni
menolak kenaikan harga BBM dan menuntut SBY-Boediono untuk segera lengser dari
tambuk pemerintahan. Bahkan, mereka mendesak para anggota DPRD Kabupaten Lebak untuk
mengajukan penolakan rencana kenaikan harga BBM ke Pemerintah Pusat di Provinsi
Banten, karena dinilai hanya akan menyengsarakan rakyat kecil. “Kenaikan ini merupakan malapetaka besar
bagi rakyat. Kenaikan ini sama dengan membuat lubang kematian bagi rakyatnya
sendiri. Pemerintah berdalih atas politik Iran. Padahal, ini adalah perintah
negeri-negeri imperialis,” seru Agus Hidar perwakilan dari Embun, (Baraya Post 13 Maret 2012). Namun,
sepertinya belum ada reaksi yang berarti dari para anggota DPRD Kabupaten Lebak.
Merasa tidak puas, salah seorang
mahasiswa dari PMII yang tidak disebutkan namanya sempat melontarkan perkataan,
“Anggota DPRD mandul. Kalian tidak bisa
berbuat apa-apa. Kalian hanya enak dengan fasilitas yang sudah kalian dapatkan.
Sementara rakayat kecil semakin miskin. Akan semakin menderita bila kenaikan
ini tidak ditolak,” (Baraya Post, 13 Maret 2012).Dari serangkaian aksi demo
penolakan kenaikan BBM yang terjadi di Kabuapten Lebak ini, seakan
memperlihatkan realitas betapa buruknya sistem pemerintahan yang ada di
Indonesia.
Berdasarkan hasil amatan saya,
baik Baraya Post maupun Kabar Banten, sejauh ini sudah cukup kritis dalam
menanggapi permasalahan kenaikan harga BBM yang kerap membuat masyarakat resah,
khususnya untuk di daerah Kabupaten Lebak yang notabene mayoritas penduduknya
adalah orang-orang miskin. Tapi sayang, nampaknya para wartawan agak sedikit terjebak
dengan isu tersebut, pemberitaan yang diwartakan terkesan berputar-putar,
isinya masih itu-itu saja. Selama satu minggu memantau tidak dtemukan perilaku
yang menyimpang dari media.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar